Jumat, 18 Februari 2011

Dua astronot NASA, Doug Wheelock & Tracy Caldwell Dyson, belum bisa memperbaiki kerusakan yang terjadi di International Space Station (ISS). Kedua astronot tersebut berusaha untuk memperbaiki sistem pendingin karena ditemukannya kebocoran gas ammonia. “Kita akan menyelesaikan masalah ini. Lebih lama beberapa hari dari yang sudah direncanakan,” ujar Michael Suffredini, manajer dari ISS, seperti yang dikutip dari Yahoo News, Senin (9/8/2010).
Setelah 8 jam dan 3 menit berusaha, mereka pun terpaksa harus menunda dulu perbaikannya.
“Tantangannya adalah untuk membereskan sebelum masalah mengenai sistem pendinginnya,” tambah Suffredini.
Masalahnya terdeteksi ketika astronot Doug Wheelock tidak bisa memutuskan kabel ammonia ke sistem pendingin.
Para ilmuwan NASA di bumi menginstruksikan para astronot untuk memperbaiki sistem yang rusak tersebut. Tim ahli NASA kembali merencanakan kembali perbaikan tersebut pada hari Rabu.
Kegagalan sistem pendingin yang rusak pada tanggal 31 Juli tersebut, adalah satu dari dua stasiun luar angkasa yang alat-alatnya berasal dari laboratorium Amerika Serikat, Jepang dan Eropa.
NASA berkata bahwa keenam kru (tiga orang astronot Amerika Serikat dan tiga orang astronot Rusia) yang ada di stasiun luar angkasa tersebut tidak dalam bahaya
CALIFORNIA – Alam semesta akan terus meluas. Demikian kesimpulan dari para ilmuwan NASA untuk sebuah penelitian baru pada salah satu teka-teki terbesar astronomi, yaitu ‘energi kegelapan’. Teleskop Hubble NASA digunakan untuk meneliti sumber energi yang mampu mendorong seluruh isi alam semesta ini untuk terus meluas. Demikian seperti yang dikutip dari Telegraph, Jumat (20/8/2010).
Sumber kekuatan misterius yang tidak terlihat ini ditemukan oleh para ilmuwan di tahun 1998. ‘Energi kegelapan’ ini mampu meluaskan jagat raya hingga lebih luas sekira 72 persen dari ukuran sebelumnya. Sisa 24 persennya, diduga adalah sumber ‘inti dari kegelapan’ tersebut. ‘Inti energi kegelapan juga dianggap cukup misterius tapi lebih mudah dipelajari ketimbang energi kegelapan itu sendiri, karena pengaruh gravitasi yang dimlikinya.
“Sisa 4 persennya, yang mana adalah jagat raya, terdiri dari materi-materi pembentuk bintang dan planet,” ujar ilmuwan lembaga antariksa AS itu.
Dengan menggunakan lensa galaktik yang besar, para ilmuwan di NASA Jet Propulsion Laboratory, California menyimpulkan bahwa energi hitam tersebut mampu menyebabkan alam semesta tidak akan berhenti meluas.
Para ilmuwan menggunakan teleskop Hubble dan European Space Observatory untuk mengamati bagaimana cahaya dari bintang kejauhan menjadi terdistorsi di dekat wilayah kumpulan galaksi terbesar yang bernama Abell 1689; yang ditemukan di konstelasi Virgo.
“Karena massa-nya yang besar maka kumpulan galaksi tersebut memantulkan dan mendistorsi sinar dari bintang tersebut,” kata para ilmuwan.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa alamt semesta akan terus meluas, karena didorong oleh energi misterius tersebut.

VIVAnews - Saat asteroid besar bersiap menghujam Bumi 50 tahun mendatang, sebuah bom nulir diluncurkan untuk membuat batu luar angkasa itu hancur berkeping. Itu adegan yang sangat menarik film Hollywood.
Itu bisa jadi nyata. Sebab, para ilmuwan mengatakan bom nuklir memang bisa jadi solusi penyelamatan Bumi.
Namun, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi. Yakni, asteroid harus jadi ancaman yang nyata bagi Bumi dalam jangka waktu yang relatif singkat — untuk justifikasi pilihan ekstrim ini. Apalagi, tambah ilmuwan, puing-puing ledakan asteroid yang dibom nuklir bisa jadi bahaya.

David Dearborn, fisikawan Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, California mendukung bom nuklir sebagai salah satu alternatif terbaik menghindarkan malapetaka Bumi.
“Bom nuklir adalah bom terkuat yang kita ketahui. Ini 3 juta kali lebih efisien daripada bom kimia. Masalahnya, adalah bagaimana untuk menggunakannya,” kata dia, seperti dimuat laman Space.com, 25 Juni 2010.
Apalagi, dengan nuklir, kita bisa membawa sumber energi luar biasa ke laur angkasa dalam kapasitas yang kecil.
Namun, masalah tak berakhir dengan hanya meledakkan asteroid. Ancaman lain masih ada — puing-puing asteroid.
Kata Dearborn, penting untuk memperhitungkan sedemikian rupa, hingga hanya sebagian kecil puing yang mampu menembus atmosfer.
Dearborn membuat simulasi untuk mengetahui jumlah energi dan waktu yang efektif untuk mengalihkan asteroid dan puing-puing yang menyebar agar tak menabrak Bumi.
Kata dia, memecah asteroid sepanjang 270 meter dengan 300 kiloton sumber energi dapat dilakukan selama 15 hari, dengan jarak lebih dari 100 juta mil dari Bumi.
“Di luar orbit Bulan. Itu berarti Bumi akan baik-baik saja. Dipastikan 97 persen material tidak menuju Bumi.”
Laboratorium Universitas California saat ini sedang merancang dan menguji senjata nuklir penghancur asteroid.
Dearborn yakin, ledakan nuklir bisa digunakan untuk mengubah orbit asteroid yang mengancam — sebelum menubruk dan menciptakan bencana luar biasa bagi Bumi.
Sementara, Direktur NASA Lunar Science Institute dan astrobiologis senior lembaga antariksa AS, David Morrison mengatakan nuklir hanya efektif dalam situasi mendesak.
“Jika asteroid itu benar-benar besar dan manusia tak punya waktu banyak, nuklir mungkin satu-satunya penyelamat kita,” tambah dia.
Laporan survey NASA mengungkapkan, 90 persen batu luar angkasa besar yang berpotensi mengancam Bumi telah ditemukan.
“Dalam beberapa tahun, kita bisa yakin tak ada di langit yang bisa menyebabkan kehancuran Bumi. Namun, masih ada jutaan benda langit yang cukup besar untuk menyapu bersih sebuah kota. Perlu waktu lama untuk menemukan dan mencari orbit mereka,” kata dia.


Isu yang belakangan ini memang selalu membuat kita bergidik, rasanya kehidupan di bumi ini sudah semakin singkat, faktor yang menyebabkannya adalah dari perkiraan tekhnologi modern yang sudah sangat akurat ditambah dengan perkiraan manusia yang katanya bisa memprediksi kapan terjadinya hari yang mengenaskan tersebut.
Walaupun sebegitu akuratnya data yang diterima baik itu di buktikan dengan perangkat modern atau kepercayaan sekelompok orang, satu hal yang saya katakan disini adalah data yang terakurat ada pada sang pencipta yang tahu kapan dan waktunya DIA berbuat sesuatu.
Salah satu yang memberikan data yang akurat tersebut adalah suku Maya yang disebut mempunyai ilmu Falak dan Sistem Penanggalan Yang Akurat dan disebutkan bahwa akan muncul gelombang galaksi yang besar sehingga menimbulkan terhentinya semua aktivitas di bumi.


Seperti yang di beritakan bahwa akan ada badai yang disebut Badai Antariksa dan berbagai dampaknya kepada bumi.
Akibat dari Gelombang Galaksi tersebut adalah :
Pertama : Terjadi ledakan di permukaan atmosfer Matahari yang menimbulkan badai Antariksa
Kedua : Miliaran ton gas superpanas berisi partikel dilontarkan ke luar angkasa
Ketiga : Sebaran partikel ini dapat menyebabkan gangguan navigasi/magnet pada bumi
Keempat : Gangguan pada sistem Satelit, Sistem Pembangkit Listrik dan gangguan pada Frekuensi Radio.
Saat ini, setelah berita ini di munculkan, para ahli dibidang sains, kedirgantaraan, penerbangan maupun ahli antariksa, membuat suatu antisipasi dengan cara membangun sistem pemantau cuaca, yakni pantauan meliputi lapisan ionosfer, geomagnetik dan gelombang radio.
Namun apapun yang terjadi pada masa yang akan datang, niscaya Maha Pencipta sudah terlebih dahulu memberikan peringatan dan himbauan kepada manusia dan masih sangat segar bila di ingat tahun 2000 lalu dimana dikabarkan bahwa sistem komputer dan lainnya akan kembali ke angka Nol jika masuk ke tahun 2000 tersebut, buktinya pada masa itu tidak terjadi sesuatu yang berarti.Semuanya yang terjadi pada masa ini dan pada masa yang akan datang adalah sesuatu rencana namun jikalau sang Pencipta belum mau melakukannya, pasti akan tidak terjadi sesuatu.


Pro kontra kiamat 2012 sepertinya masih terus berlanjut, hal ini dikarenakan adanya beberapa tuduhan dari sejumlah website yang menuduh NASA atau Badan Antariksa Amerika yang mencoba menutupi kebenaran akan hari hancurnya bumi tersebut. NASA mengecem bahwa berita kiamat yang ramai dibicarakan di Internet tersebut hanyalah sebagai ‘bualan‘.
“Belum ada fakta yang menyatakan hal tersebut. Jikalau pun akan terjadi, maka astronom pasti sudah bisa memperkirakannya sejak satu dekade terakhir, dan pasti sudah terlihat sekarang. Bahkan ilmuwan yang ahli di seluruh dunia juga tahu, bahwa tidak ada kiamat 2012.“ tukas NASA.
NASA bersikeras bahwa calendar Maya tidak akan berakhir di tahun 2012, untuk itu, tidak ada yang namanya garis katulistiswa yang berdiri sejajar dalam waktu mendatang. Bahkan, suku Maya di Guatemala dan Mexico, juga lalu menepis dugaan hari hancurnya bumi tersebut, tambah NASA. NASA juga menjelaskan, sikap suku Maya yang melihat perkembangan kiamat 2012 hanya menjadi campuran kebingungan dan kekesalan kepada apa yang dianggap sebagai distorsi Barat yang mengganggu tradisi dan keyakinan mereka.


Film fiksi ilmiah ‘2012′ yang menceritakan tentang terjadinya badai matahari (flare) bukan isapan jempol belaka. Flare diperkirakan akan terjadi antara tahun 2012-2015. Namun, tak serta merta hal itu melenyapkan peradaban dunia.

“Lapan memperkirakan puncak aktivitas matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan tinggi dan terjadi badai matahari,” ujar Kabag Humas Lapan Elly Kuntjahyowati dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (4/3/2010).
Flare tersebut, imbuhnya, merupakan salah satu aktivitas matahari selain medan magnet, bintik matahari, lontaran massa korona, angin surya dan partikel energetik. Ledakan-ledakan matahari itu, bisa sampai ke bumi. Namun, flare yang diperkirakan akan terjadi itu tak akan langsung membuat dunia hancur.
“Masyarakat banyak yang menghubungkan antara badai matahari dengan isu kiamat 2012 dari ramalan Suku Maya. Ternyata dari hasil pengamatan Lapan, badai matahari tidak akan langsung menghancurkan peradaban dunia,” imbuhnya.
Efek badai tersebut, lanjut dia, yang paling utama berdampak pada teknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio. Satelit dapat kehilangan kendali dan komunikasi radio akan terputus.
“Efek lainnya, aktivitas matahari berkontribusi pada perubahan iklim. Ketika aktivitas matahari meningkat maka matahari akan memanas. Akibatnya suhu bumi meningkat dan iklim akan berubah,” jelas Elly.
Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim. Dampak ekstremnya, bisa menyebabkan kemarau panjang. Namun hal ini masih dikaji oleh para peneliti.
 

TEMPO Interaktif, Washington:
Sebuah supernova telah terjadi di luar angkasa baru-baru ini. Sebuah bintang besar—ukurannya 150 kali ukuran matahari—meledak dan menimbulkan cahaya lima kali lebih terang daripada supernova mana pun.

Supernova terjadi ketika sebuah bintang tua kehabisan bakar lalu meledak dengan sendirinya. Bintang uzur itu bernama SN 2006gy, yang ditemukan pertama kali pada September tahun lalu oleh seorang mahasiswa di Texas. Letaknya 240 juta tahun dari bumi, berada pada galaksi yang jauh dari Bimasakti.
Besar Kecil Normal
Supernova Terlihat di Luar Angkasa.
Rabu, 09 Mei 2007 | 00:53 WIB
TEMPO Interaktif, Washington:
Sebuah supernova telah terjadi di luar angkasa baru-baru ini. Sebuah bintang besar—ukurannya 150 kali ukuran matahari—meledak dan menimbulkan cahaya lima kali lebih terang daripada supernova mana pun.
Supernova terjadi ketika sebuah bintang tua kehabisan bakar lalu meledak dengan sendirinya. Bintang uzur itu bernama SN 2006gy, yang ditemukan pertama kali pada September tahun lalu oleh seorang mahasiswa di Texas. Letaknya 240 juta tahun dari bumi, berada pada galaksi yang jauh dari Bimasakti.
Ahli astronomi dari Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) mengatakan supernova itu berlangsung selama 70 hari. Mereka telah mengamatinya dengan sejumlah teleskop di bumi maupun ruang angkasa. “Dari semua bintang yang meledak yang pernah diamati, inilah rajanya,” kata Alex Filippenko dari NASA.
Nathan Smith, yang memimpin sebuah tim gabungan dari Universitas California Berkeley dan Universitas Texas Austin, mengatakan ledakan itu sungguh-sungguh besar, ratusan kali lebih energik daripada supernova biasa.
Namun berbeda dengan supernova yang umum, pengamatan melalui teleskop sinar-X dari Observatorium Chandra di orbit, memperlihatkan bahwa ledakan SN 2006gy tak menyebabkan lubang hitam (black hole).
Para ahli astronomi itu kemudian memperkirakan ledakan bintang semacam itu akan terjadi pada bintang Eta Carinae, yang berada di galaksi Bimasakti, 7.500 tahun cahaya dari bumi.
Dave Pooley dari Universitas California di Berkeley, mengatakan bila Eta Carinae meledak, cahayanya akan begitu terang sehingga akan tampak meski pada siang hari.
Mario Livio dari Institut Ilmu Teleskop Ruang Angkasa di Baltimore mengatakan Eta Carinae bisa meledak kapan saja. “Kami terus mengawasinya,” katanya.
 
INGGRIS – Ras manusia harus siap bertempat tinggal di planet lain dalam kurun waktu dua abad ke depan. Hal ini untuk menghindari kepunahan. “Dua abad ke depan, manusia harus sudah siap menempati luar angkasa (planet lain). Jika tidak maka kita akan punah,” ujar Stephen Hawking, ilmuwan astro-fisika ternama asal Inggris, seperti dikutip melalui Yahoo News, Selasa (10/8/2010).
Ilmuwan tersebut mengatakan bahwa ia takut umat manusia dalam bahaya besar. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengatasi kepunahan massal, atau ingin bertahan hidup, adalah tinggal di planet lain di luar angkasa.
“Tapi saya adalah seorang yang optimis. Jika kita bisa tetap tinggal di bumi dan menghindari bencana untuk dua abad ke depan, spesies kita akan aman. Jadi kita tidak harus berada di luar angkasa,” tambah Hawking.
Profesor Hwaking memperingatkan bahwa populasi di bumi semakin meningkat dan sumber daya alam yang ada semakin menipis.
“Itulah salah satu bahaya yang sedang kita hadapi. Jika kita tidak memiliki upaya untuk mencegahnya, salah satu cara untuk menghadapinya adalah dengan mencari tempat tinggal di planet lain,” tandas Hawking.
Pernyataan ini cukup kontras dengan peringatan yang dilancarkan Hawking baru-baru ini. Awal tahun ini, Profesor Hawking memperingatkan para ilmuwan bahwa menjelajahi luar angkasa cukup menimbulkan resiko yang besar karena sama saja dengan menggangu habitat di luar bumi.
Di beberapa seri Discovery Channel, dia mengatakan manusia harus waspada dalam mencoba berkomunikasi dengan mahkluk asing karena mungkin saja mereka bukan makhluk yang ramah.
 
WASHINGTON – Para ilmuwan mengatakan bahwa kurangnya aktifitas matahari menyebabkan salah satu lapisan teratas atmosfir menyusut. Meski terdengar agak sedikit menakutkan tapi sebenarnya ini adalah kabar yang baik untuk satelit-satelit angkasa kita. Paslanya gas-gas dari radiasi sinar matahari tersebut memperpendek usia satelit. Fenomena kurangnya aktifitas matahari ini membuat umur satelit bertahan menjadi lebih lama, seperti yang dikutip dari Straits Times, Jumat (27/8/2010).
Selain itu, fenomena ini juga ada sisi buruknya yakni makin bertambah banyak saja sampah-sampah di luar angkasa.
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal American Geophysical Union, energi matahari berkurang sepanjang periode tahun 2007 sampai 2009. Selama periode tersebut, lapisan atmosfir teratas bernama thermosphere, yang berada di ketinggian 90 kilometer sampai 480 kilometer di atas Bumi, menjadi dingin dan menciut.
Kurangnya aktifitas matahari yang menyebabkan menyusutnya thermosphere ini adalah kontraksi terbesar dalam kurun waktu 43 tahun terakhir.
VIVAnews – Para peneliti kini 99 persen yakin bahwa peristiwa kehancuran massal di Bumi terjadi secara reguler, seteratur jarum jam berputar. Begitulah temuan para ilmuwan dari Universitas Kansas dan Smithsonian Institute di Amerika Serikat setelah mereka memetakan semua armagedon sejak 600 juta tahun yang lalu. Astrofisikawan dari Universitas Kansas, Dr. Adrian Melott, dan palaeontologis dari Smithsonian Institute, Dr. Richard Bambach, mengungkapkan dalam kurun waktu itu kiamat di Bumi terjadi setidaknya tiap 27 juta tahun sekali. Dan penyebab kiamat mendatang, menurut para peneliti itu, ternyata bukanlah pemanasan global. Lalu apa? Planet kita selalu melintasi hujan komet tiap 27 juta tahun, dan ternyata sangatlah jarang Bumi berhasil lolos dengan selamat. Selama 20 kali melewati cobaan maut itu, Bumi hanya berhasil lolos dari lubang jarum dan mempertahankan sebagian besar organisma biologis yang hidup di atasnya, sebanyak enam kali saja. Yang paling terkenal adalah bencana dahsyat 65 juta tahun lalu, saat asteroid selebar 15 kilometer menghantam Bumi–di titik yang sekarang merupakan wilayah Meksiko–dengan kekuatan miliaran kali bom atom dan lalu menyapu habis Dinosaurus dari muka Bumi. Lebih celaka lagi, periode putaran kiamat ini tak akurat betul. Terkadang, asteroid-asteroid menghantam semua makhluk hidup di muka bumi, 10 juta tahun lebih cepat dari yang semestinya.
Tapi, janganlah buru-buru panik. Masih ada kabar baik. Ini menyangkut Nemesis, bintang kembar gelap dari matahari. Selama ini, Nemesis selalu dituding jadi biang keladi. Teori umumnya begini: tiap 27 juta tahun sekali, Nemesis melintasi sabuk raksasa debu dan es yang disebut awan Oort, dan gara-gara itu lalu melontarkan komet-komet ke Bumi. Sekarang, para ilmuwan mengatakan: karena skenario kiamat terjadi secara begitu reguler, Nemesis tidaklah mungkin jadi penyebab utama karena orbitnya akan mengalami perubahan dalam kurun waktu sebegitu lama. Tapi, ini bukan berarti bahwa Nemesis–yang terletak sekitar satu tahun cahaya dari matahari–tidak akan lagi menyemburkan komet-komet awan Oort-nya ke seantero galaksi kita. Sekarang ini, komet-komet itu sedang menghajar planet-planet lain di luar Bumi. Jadi, karena armagedon terakhir terjadi 11 juta tahun lalu, maka berdasarkan teori ini, Bumi baru akan kiamat pada tahun 16.002.010–bukan dua tahun mendatang, seperti yang difilmkan Roland Emmerich di “2012.” Artinya, silakan Anda menghirup nafas lega-lega–sepanjang pemanasan global tak segera menciptakan kiamat yang lain
 
VIVAnews – Badai meteor mengancam stasiun angkasa luar internasional dan satelit-satelit seperti teleskop Hubble. Badai itu bahkan diyakini bakal yang terkuat dalam lebih dari satu dekade.

Demikian peringatan dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Kamis 17 Juni 2010. NASA memperingatkan bahwa badai meteor diprediksi terjadi tahun depan dan bisa menghantam Teleskop Hubble dan stasiun angkasa luar internasional.

Para pakar astronomi NASA khawatir bahwa kumpulan serpihan komet itu akan terjadi selama sekitar tujuh jam. Tak hanya mengancam satelit dan stasiun luar angkasa, meteor itu bisa mengenai pesawat luar angkasa yang sedang mengorbit dan merusak perangkat elektronik mereka.
Ilmuwan NASA, seperti dikutip dari laman harian The Telegraph, mengatakan badai meteor tersebut akan menimbulkan tontonan visual tentang bintang. Meski demikian, ilmuwan NASA mengakui saat ini mereka belum bisa memastikan seberapa serius dampak badai meteor tersebut.
Namun, operator kendaraan angkasa luar telah diminta untuk mengembangkan mekanisme pertahanan.

NASA juga sedang menyelidiki kemungkinan memutar arah stasiun angkasa luar internasional dan teleskop Hubbel untuk memastikan area rawan tidak berhadapan langsung dengan semburan pasir.

Astronot juga dilarang melakukan “spacewalk” hingga ancaman semburan partikel angkasa luar sudah berlalu. Namun satelit, termasuk satelit penyedia layanan penting seperti komunikasi, perangkat bernavagasi satelit (satnav), dan televisi, akan tetap menghadang badai.

Dr William Cooke, pakar meteor NASA di Alabama, mengatakan berbagai rencana sedang disiapkan untuk menghindari masalah-masalah akibat badai. Dari berbagai data yang terkumpul, komputernya menyimpulkan bahwa beberapa ratus meteor per jam akan tampak dari Bumi pada 8 Oktober tahun depan.
 
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperingatkan bahaya badai matahari. Sejumlah negara, termasuk Inggris akan menghadapi mati listrik dan hilangnya jaringan komunikasi secara meluas — setelah Bumi dihantam ‘badai luar angkasa’. Jaringan listrik di Inggris akan mengalami panas berlebihan, akan ada gangguan perjalanan udara. Sementara, kerja peralatan elektronik terganggu, alat navigasi, dan satelit utama buatan manusia berhenti beroperasi — saat Matahari mencapai kekuatan maksimumnya dalam beberapa tahun.
Ilmuwan senior NASA yakin, Bumi akan terpukul oleh tenaga magnetis dari jilatan api Matahari dalam level yang tak diketahui, setelah Sang Surya ‘bangun dari tidurnya yang panjang’ suatu hari di tahun 2013. Demikian diungkap dalam artikel yang ditulis di The Daily Telegraph. Dalam peringatan terbarunya, NASA mengatakan, badai superkuat akan memukul bumi seperti ‘kilat’. Efeknya, bisa mengakibatkan bencana bagi kesehatan di dunia, layanan gawat darurat dan juga kemanan nasional — kecuali tindakan pencegahan sudah diambil sebelumnya.
Para ilmuwan percaya, badai matahari dapat merusak segala sesuatu, dari sistem layanan darurat, peralatan rumah sakit, sistem perbankan dan perangkat kontrol lalu lintas udara, hingga barang-barang sehari-hari seperti komputer dan iPod. Karena ketergantungan manusia pada perangkat elektronik, yang sensitif terhadap energi magnetik, badai matahari bisa berarti kerugian besar dan berpotensi menjadi masalah serius bagi pemerintahan suatu negara. “Kita tahu bahwa badai matahari akan datang, tapi kita tidak tahu seberapa buruk yang akan terjadi ,” kata direktur divisi Heliophysics NASA, Dr Richard Fisher, seperti dimuat laman Telegraph, 14 Juni 2010. “Ini akan mengganggu kerja perangkat komunikasi seperti satelit dan navigasi mobil, perjalanan udara, sistem perbankan, komputer, segala sesuatu yang elektronis. Ini akan menimbulkan masalah besar bagi dunia.” Sebagian wilayah Bumi akan kehilangan tenaga listrik. Dan untuk memperbaiki kerusakan yang ada, membutuhkan waktu yang tak sebentar. Dalam konferensi cuaca baru-baru ini diselenggarakan di Washington DC, yang dihadiri para ilmuwan NASA, pembuat kebijakan, peneliti dan pejabat pemerintah, peringatan bahaya badai matahari diberitahukan. Ini, kata Fisher, bukan sekedar peringatan, melainkan peringatan yang paling komperehensif. Badai, yang akan menyebabkan Matahari mencapai suhu lebih dari 10.000 F atau 5.500 derajat celcius — sesuatu yang jarang terjadi. Setiap siklus 22 tahun, energi magnetik Matahari mencapai puncaknya, sementara, jumlah bintik matahari (flare) mencapai maksimum setiap 11 tahun. Kejadian pada 2013 menggabungan dua fenomena tersebut dan menghasilkan tingkat radiasi besar.
Dia mengatakan sebagian besar wilayah dunia bisa menghadapi hidup tanpa listrik selama beberapa bulan, meskipun dia mengakui bahwa itu tidak mungkin. Alternatif yang lebih mungkin adalah bahwa daerah yang luas, termasuk Eropa Utara dan Inggris yang memiliki jaringan listrik yang rapuh akan mengalami kelumpuhan energi, hidup tanpa listrik selama beberapa jam, atau beberapa hari. Kata Fisher, persiapan harus dilakukan, pada level sama seperti menghadapi angin topan — saat pemerintah tahu bencana sudah dekat namun tak tahu seberapa besar kerusakan yang akan terjadi. “Saya pikir, yang jadi masalah utama adalah bahwa saat ini masyarakat modern sangat bergantung pada elektronik, ponsel dan satelit daripada sebelumnya,” katanya. Sebelumnya, National Academy of Sciences, dua tahun lalu, telah memperingatkan, jaringan daya, GPS navigasi, perjalanan udara, jasa keuangan dan komunikasi radio darurat bisa terganggu oleh aktivitas Matahari. Kerusakan ekonomisnya bisa dua puluh kali lebih parah dari Badai Katrina — yang menghancurkan New Orleans pada tahun 2005 dan merugikan secara ekonomi sekitar US$ 125 miliar. Tindakan apa saja yang bisa dipersiapkan suatu negara? Kata Fisher, tindakan pengamanan. Termasuk pembuatan sistem cadangan energi untuk rumah sakit dan pembangkit listrik, pengembangan satelit yang lebih aman. Saat ini, NASA terus menyelidiki pengaruh badai matahari di bumi dengan menggunakan puluhan satelit. Meneropong seberapa besar potensi ancamannya bagi Bumi

Saat ini Rusia tengah berencana untuk membangun pesawat antariksa bertenaga nuklir untuk misi berawak ke Mars.
Menurut kantor berita RiaNovosti, Anatoly Perminov, Russian Federal Space Agency, menyebutkan bahwa Komisi pemerintah beranggapan kalau rencana itu sangat krusial. Namun demikian begitulah adanya jika ingin mempertahankan keunggulan kompetitif dalam ruang perlombaan.
Desain dasar akan siap pada tahun 2012 mendatang. Sebuah versi akhir akan memakan waktu selama sembilan tahun lagi, dan akan menelan biaya sekitar 580 juta USD atau sekitar 5,8 trilyun rupiah untuk pembangunannya, kata Perminov. Ini akan didasarkan sekitar reaktor nuklir berkapasitas megawatt, yang jauh lebih kuat daripada reaktor nuklir kecil yang menjadi pembangkit beberapa satelit militer Rusia.
“Proyek ini bertujuan untuk menerapkan skala besar program eksplorasi ruang angkasa, termasuk misi berawak ke Mars, perjalanan antar planet, penciptaan dan pengoperasian pos-pos planet”, kata Perminov. Tapi ia telah menghentikan pengajuan sebuah basis permanen di Mars.
Presiden Dmitry Medvedev mendukung proyek tersebut, dan mendesak pemerintah untuk mencari dana. Jika proyek berjalan nantinya, itu akan menjadi dorongan besar untuk program luar angkasa Rusia. Rusia saat ini menggunakan roket pendorong Soyuz yang telah berumur 40 tahunan, dan berencana untuk mengganti nya dengan yang lebih baik lagi.

Planet pertama yang bisa dihuni dalam ukuran dan kondisi yang sama dengan Bumi, telah ditemukan dalam satu sistem tata surya luar, sehingga kembali memunculkan kemungkinan adanya kehidupan di planet-planet lain, ungkap para ilmuwan.

Planet yang belum diberi nama itu besarnya satu setengah kali Bumi dan lima kali lebih pejal, ungkap tim astronom Eropa di Observatorium Selatan Eropa di Garching, Jerman.
“Kami sudah menaksir bahwa suhu rata-rata super-Bumi ini antara 0 hingga 40 derajat Celsius, karena itu air dalam keadaan cair,” kata Stephane Udry dari Observatorium Jenewa.
“Model-model memberi perkiraan bahwa planet itu kemungkinan berbatu-batu seperti Bumi kita atau ditutupi samudera.” katanya kepada DPA.
Planet itu terletak di sekitar bintang yang disebut Gliese 581, sekitar 20,5 tahun cahaya dari sistem tata surya Bumi dan termasuk 100 bintang terdekat dari Matahari.
Walau planet itu lebih dekat kepada bintangnya dibandingkan dengan jarak Bumi ke Matahari, kedua planet sama mempunyai kondisi serupa karena Gliese 581, yang disebut “kurcaci merah”, ukurannya lebih kecil dan lebih dingin.
Satu tahun planet tersebut sama dengan 13 hari di Bumi.
“Kurcaci-kurcaci merah, cocok untuk mencari planet-panet sejenis karena mereka memancarkan cahaya lebih sedikit, dan mereka juga punya jarak yang lebih dekat ke zona yang bisa dihuni, dibanding matahari kita,” kata Xavier Bonfils dari Universitas Lisabon.
Lebih dari 200 “eksoplanets” – planet di luar tata surya Matahari, ditemukan dalam 12 tahun terakhir. Kebanyakan adalah gas padat yang sangat besar mirip Jupiter.
Xavier Delfosse dari Universitas Grenoble di Prancis mengatakan planet temuan baru itu dapat dihuni dan pasti menjadi sasaran bagi misi luar angkasa mencari mahluk luar angkasa di masa depan.
“Air dalam bentuk cair sangat penting bagi kehidupan,” katanya. “Bagai peta harta karun, orang akan menandai planet ini dengan tanda X.”


Astronomer berhasil menemukan planet yang diselimuti udara panas. Hanya dalam hitungan enam jam, planet ini empat kali lebih panas dari Jupiter dengan suhu mencapai 1.200 derajat. Penelitian itu dilaporkan di journal Nature. “Ini pengamatan pertama perubahan cuaca di planet di luar tata surya kita,” kata penulis laporan itu Gregory Laughlin, profesor astronomi di Universitas California di Santa Cruz. Dia menggunakan Spitzer Space Telescope NASA untuk
mempelajari planet itu. Normalnya planet ini memiliki suhu 980 derajat. Tetapi hanya dalam berapa jam dapat diselubungi panas yang memaksa thermometer mendekati 2.240 derajat. Saat mendekati mataharinya, planet itu 10 kali lebih dekat jika dibandingkan jarak Merkurius ke matahari kita. Pada posisi itu, terjadi badai raksasa disertai dengan gelombang kejutan. Serbuan radiasi ke planet itu 800 kali lebih kuat. Tapi anehnya, panas di planet itu bisa cepat menghilang di angkasa yang hampa. “Sungguh aneh. Sungguh tak bisa didiami. Di galaxi dengan planet yang tak bisa didiami, planet ini merupakan salah satunya yang benar-benar tak mendukung kehidupan,” kata Laughlin. Planet itu mengitari mataharinya dengan orbit mirip komet, dalam jangka waktu hanya 111 hari. Matahari dari planet itu akan terlihat dari bumi dekat Big Dipper pada 14 Februari. Ada 15% kesempatan astronomer amatir bisa melihat HD80606b menggunakan teleskop kecil


KOMPAS.com — Teleskop NASA memotret sebuah awan antariksa yang dipenuhi bintang-bintang baru yang ditaburi debu-debu ruang angkasa. Citra inframerah ini berasal dari kumpulan bintang baru yang dilabel Berkeley 59.
Tiap bintangnya “baru” beberapa juta tahun dan karena warna-warni merah dan hijaunya, para ilmuwan NASA menyamakannya dengan sebuah mawar kosmis.
Citra ini diambil oleh perangkat baru NASA, yaitu Penjelajah Survei Inframerah Berlingkup Lebar atau Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE). Pengamat antariksa ini bernilai 320 juta dollar AS dan dibangun untuk memetakan seluruh langit dengan mendetail. Teleskop ini juga telah memotret asteroid gelap dan komet yang sebelumnya susah ditangkap citranya.
Teleskop WISE milik NASA diperkirakan bisa menyelesaikan pemetaan langitnya dalam enam bulan lagi.
Kembali pada mawar kosmis itu, cahaya merah di tengahnya adalah akibat panas yang dipancarkan oleh bintang-bintang dalam awan itu. Daerah hijau zamrud di pinggirannya adalah molekul-molekul polycyclic aromatic hydrocarbon yang bisa ditemukan juga di Bumi, yaitu dari hasil pembakaran, contohnya dari pipa knalpot mobil atau bahkan di dasar panggangan barbeque.


WASHINGTON (Suaramedia) Badan antariksa AS menyatakan, Rabu, Teleskop Antariksa Hubble miliknya telah membuat foto pertama, yang diambil dalam cahaya yang tampak,
sebuah planet yang mengedari sebuah bintang dalam tata surya lain. Massa planet tersebut, Fomalhaut b, diperkirakan tiga kali massa Jupiter, planet terbesar dalam tata surya kita.
Foto itu diambil ketika Fomalhaut b mengorbit bintang Fomalhaut, yang letaknya 25 tahun cahaya dari Bumi dalam konstelasi Piscis Australis atau Ikan Selatan.
Sangat menantang untuk mengambil gambar planet ini sehubungan kecermelangan bintangnya membuat hampir tak mungkin dalam cahaya yang tampak untuk melihat planet-planet yang mengorbitnya.
Kondisi ini memaksa para astronom mencari berbagai planet secara tak langsung dengan mengukur pengaruh gravitasi pada bintang yang sedang diedari planet.
Dalam foto yang dirilis Badan Antariksa dan Aeronautika AS (NASA), planet tersebut tampak seperti titik kecil di tengah cincin debu merah raksasa dari reruntuhan proto-planetary. Piring reruntuhan besar ini sama dengan dengan Sabuk Kuiper, yang melingkupi tata surya dan mengandung sejumlah benda dalam bentuk es, berupa titik debu dan bahkan benda seukuran planet cebol, seperti Pluto dalam tata surya kita.
“Berbagai pengamatan kami sangat rumit. Fomalhaut b satu miliar kali lebih redup ketimbang bintangnya. Kami memulai program ini pada 2001 dan usaha kami yang terus menerus akhirnya membuahkan hasil,” kata astronom Hubble, Paul Kalas dari Universitas California di Berkeley dalam sebuah pernyataannya.
NASA mengemukakan Fomalhaut telah menjadi planet buruan sejak Satelit Astronomi Infra Merah badan itu menemukan debu yang berlimpah di sekitar bintang itu pada awal dekade 1980-an.
NASA memberikan konfimasi planet itu jaraknya lebih dari 17,2 miliar kilometer dari bintangnya, atau sekitar 10 kali jarak Saturnus dari Matahari kita.
Planet asing itu juga lebih terang ketimbang yang diperkirakan bagi benda seukurannya, boleh jadi karena planet memiliki cincin es dan debu seperti Saturnus yang memantulkan cahaya bintang.

Foto-foto spektakuler Bumi ini merupakan gambar planet tersebut dengan warna paling setia yang pernah diterbitkan sejauh ini, kata para ilmuwan badan antariksa Amerika Serikat, NASA.
Foto: NASA
Citra Samudra Hindia dan Amerika Utara diproduksi oleh tim astronom NASA dengan menggunakan foto-foto dari satelit Terra yang berada 700 km di atas permukaan Bumi.
Serial foto the Blue Marble series dipadukan dari ribuan foto yang diambil dengan peralatan sensor jarak jauh satelit Terra untuk setiap kilometer persegi permukaan Bumi.







bima sakti
Kita semua pasti tahu planet bumi yang kita tempati ini berada dalam satu tata surya dan tata surya tersebut berada dalam satu galaksi yang bernama Galaksi Bima Sakti. Jika kita memperhatikan dengan seksama di seluruh jagat raya ini ternyata tidak hanya galaksi bima sakti yang ada di jagat raya ini, ada yang namanya Galaksi Andromeda, Galaksi Bode, Galaksi Cartwheel dan masih banyak lagi, selengkapnya ada di sini. Seperti kita tahu satu galaksi ukurannya sangat sangat besar, dan jika dilihat dengan seksama lagi tata surya kita ini, ternyata bumi tidak lebih dari ukuran satu butir pasir yang ada di pantai :nerd .
Coba teman – teman bayangkan bumi seperti satu butir pasir di pantai dan kita sebagai penghuni bumi merupakan bagian kecil dari satu butir pasir tadi. Subhanallah…ternyata kita sangat sangat kecil, dan hanya DIA lah yang MAHA BESAR. Karena hanya DIA yang bisa mengatur alam yang sedemikian luas ini, tapi mata-NYA tidak pernah luput dari apapun yang kita kerjakan. Jika kita coba saja melihat galaksi bima sakti ini dengan alat paling canggihpun, saya jamin bumi tidak akan bisa terlihat.
Mungkin teman – teman sudah membayangkannya, lalu pertanyaannya kenapa masih saja ada rasa sombong, angkuh, paling berkuasa dan sikap – sikap seperti itu di dalam hati kita..? Padahal kita begitu kecil di mata-NYA dan hanya DIA lah satu – satunya yang MAHA BESAR.
Melewati postingan saya kali ini saya mengajak diri saya sendiri sekaligus teman – teman untuk kembali merenungkan siapa kita sebenarnya dan kemudian kita mulai memperbaiki diri kita lagi sebelum waktu kita tiba :) .
Menurut bentuknya galaksi dibagi menjadi empat yaitu galaksi berbentuk spiral, elips, tak beraturan, dan spiral berpalang.
1) Galaksi spiral merupakan tipe galaksi yang paling umum dikenal. Bagian utama galaksi spiral adalah halo, bidang galaksi (lengan spiral), dan bulge (bagian pusat galaksi yang menonjol). Contoh galaksi tipe ini adalah galaksi Bima Sakti dan galaksi Andromeda.


2) Galaksi elips, sesuai dengan namanya penampakannya seperti elips, tetapi bentuk sebenarnya belum diketahui. Contoh galaksi tipe elips adalah galaksi M87, yaitu galaksi elips raksasa yang terdapat di Rasi Virgo.

3) Galaksi tak beraturan, adalah tipe galaksi yang tidak simetri dan tidak memiliki bentuk khusus. Anggota dari galaksi ini terdiri atas bintang-bintang tua dan bintang-bintang muda. Contoh dari galaksi tipe ini adalah Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil, dua buah galaksi yang letaknya paling dekat dengan galaksi Bima Sakti.

4) Bentuk spiral berpalang, galaksi ini memiliki lengan-lengan spiral keluar dari bagian ujung suatu pusat, kira-kira 18% dari jumlah galaksi merupakan spiral-spiral ataupun spiral-spiral yang terpotong.

Galaksi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1) Galaksi-galaksi terlihat di luar jalur bintang Kali S
erayu, sejauh ratusan ribu, bahkan jutaan tahun cahaya dari matahari.
2) Galaksi-galaksi mempunyai cahaya sendiri, bukan cahaya fluorescensi (cahaya pantulan).
3) Galaksi-galaksi mempunyai bentuk tertentu, yang selalu mempunyai inti yang bercahaya di pusatnya, sehingga mudah untuk dikenali.
4) Jarak antargalaksi jutaan tahun cahaya.


Bulan Januari 2001, fisikawan yang terkenal dari Universitas St. Andrew yakni Nel Ryan Harther mengumumkan bahwa ia dan peneliti Inggris lainnya akan menciptakan sebuah lubang hitam di ruang laboratorium, ketika itu tidak ada yang merasa terkejut terhadap hal demikian. Namun, beberapa hari yang lalu sebuah harian di Rusia mengumumkan ramalan ilmuwannya bahwa lubang hitam tidak saja dapat dibuat dalam ruang laboratorium, bahkan 50 tahun kemudian, ledakan lubang hitam yang mempunyai energi mahadahsyat akan membuat bom atom yang mengerikan manusia sekarang juga terbukti lebih buruk, menjadi pediatri yang tidak patut dipersoalkan.
Pertimbangan manusia menciptakan lubang hitam sebenarnya paling awal abad ke-20 tahun 80-an dikemukakan oleh Profesor William Anroe dari Universitas British, Columbia, ia berpendapat, bahwa manifestasi gelombang suara dalam zat cair dengan manifestasi cahaya dalam lubang hitam sangat mirip, jika membuat kecepatan cairan melampaui kecepatan bunyi, maka pada kenyataannya telah membentuk sebuah gejala lubang hitam buatan dalam cairan tersebut. Sekalipun demikian, Dr. Ryan Harther berencana bahwa lubang hitam buatan yang tercipta oleh karena kekurangan gravitasi yang cukup, selain cahaya, mereka tidak dapat menelan semua benda yang ada di sekeliling seperti lubang hitam yang sebenarnya.


Sebaliknya, ilmuwan Rusia Alexander Delofmankov malah berpendapat, bahwa lubang hitam alam semesta sesungguhnya yang dapat menelan segala benda juga dapat secara keseluruhan “menciptakannya” melalui ruang laboratorium: Sebuah lubang hitam yang berukuran inti atom, energinya akan melampaui sebuah pabrik nuklir. Jika manusia, pada suatu hari nanti benar-benar menciptakan bom lubang hitam, maka energi yang ditimbulkan sebuah bom lubang hitam setelah meledak, akan setara dengan ledakan bom atom yang tak terhingga kelipatannya secara bersamaan, paling tidak ia dapat mengakibatkan kematian 1 miliar jiwa.


Bagi mayoritas orang, lubang hitam yang menakutkan adalah hal yang sangat jauh di alam semesta, masih sangat jauh meninggalkan kita. Namun, Delofmankov berpendapat, sebenarnya kerabat kecil lubang hitam alam semesta –lubang hitam mini ada di mana-mana di atas bumi, bahkan mendatangkan sejumlah besar masalah dan bencana pada manusia. Beberapa ilmuwan Rusia menganggap, bahwa beberapa fenomena misterius di atas bumi berhubungan dengan lubang hitam mini, seperti misalnya letusan gunung berapi, energi dan panas gunung berapi selalu merapat di tempat tertentu di atas bumi, lagi pula tak kunjung habis. Beberapa ilmuwan bahkan curiga, bahwasannya adalah energi mataharilah yang telah menyampaikannya ke tempat yang dalam di bumi melalui lubang hitam. Sebelum ini, beberapa fisikawan mengenali bahwa di atas matahari tidak hanya terdapat energi nuklir, bahkan ada lubang hitam mini, lagi pula setiap bagian dalam planet mungkin terdapat lubang hitam mini. (erabaru.net)*






Tata Surya[a] adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi[b], dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.
Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima obyek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami, yang biasa disebut dengan “bulan” sesuai dengan Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.

Arcturus atau bintang Biduk (α Boo / α Boötis / Alpha Boötis) (IPA: [aɹkˈtjuɹəs]) adalah bintang paling terang di rasi Boötes, dan bintang paling terang ketiga di langit malam, dengan magnitudo tampak −0.05, setelah Sirius dan Canopus. Tetapi jika sistem bintang Alpha Centauri dianggap sebagai satu obyek, maka predikat tersebut harus diberikan kepada Alpha Centauri. Sistem bintang Alpha Centauri terdiri dari dua bintang terang yang sangat berdekatan sehingga tidak dapat dipisahkan oleh mata, dan dengan demikian akan nampak lebih terang dibandingkan Arcturus. Arcturus juga merupakan bintang paling terang di belahan langit utara.
Antares (α Scorpio / Alpha Scorpio) adalah bintang superraksasa merah di konstelasi scorpio dalam galaksi Bima Sakti dan bintang paling terang ke-16 pada langit malam (terkadang didaftarkan sebagai paling terang ke-15). Bersama dengan Aldebaran, Spica, dan Regulus, bintang ini merupakan salah satu dari empat bintang paling terang di dekat ekliptika.


-Para astronom Eropa berhasil menemukan tujuh planet, yang berasal dari sebuah tata surya baru. Sementara jarak tata surya baru itu sekitar 127 tahun cahaya dari gugus Bimasakti.
Jarak tujuh  planet baru tersebut dari induk tata suryanya, tak jauh beda dengan jarak antara planet-planet dengan induk Bimasakti. Artinya, sistim tata surya yang menjadi induk planet baru itu, serupa dengan sistim gugus Bimasakti.”Yang kita temui ini sangat mirip dengan planet ada di tata surya kita,” ujar ketua peneliti ESO (Observator bagian selatan Eropa), Dr Christophe Lovis. “Ini penemuan luar biasa, dan membuktikan bahwa kita telah memasuki era riset eksoplanet.”
Adapun riset eksoplanet yang dimaksud Lovis adalah studi mengenai sistim planet yang lebih kompleks, dan bukan lagi sistim planet individual.
“Studi atas pergerakan planet di sistim tata surya baru itu mengungkap sebuah fakta tentang bagaimana gravitasi disana, yang sifatnya cukup rumit. Dan darisitu pula, kita dapat memprediksi tentang evolusi jangka panjang tata surya itu,” ungkap Lovis.
Induk planet baru itu dinamai HD 10180, yang letaknya membentang di arah selatan dari peta kumpulan bintang Hydrus, sejauh 127 tahun cahaya.
Para astronom menemukan planet itu, setelah secara sabar melakukan studi selama enam tahun, dengan bantuan alat instrumen pencari planet yang disebut HARPS spectograph. HARPS dipasang di teleskop berukuran 3,6 meter milik ESO di La Silla, Chili.
Dari 190 pengukuran HARPS yang dilakukan secara individu, para astronom berhasil mendeteksi goyangan kecil planet akibat sentakan gravitasi di planet baru itu.
Lima sinyal terkuat dari planet baru datang dari planet yang memiliki massa yang nyaris sama dengan Neptunus, atau sekitar 13 hingga 25 kali dari Bumi.
Periode orbit ketujuh planet itu terhadap tata surya mereka, berjarak antara enam hingga 600 hari. Jarak antara planet itu dari tata suryanya ibarat 0,06 – 1,4 kali jarak antara Bumi dengan Matahari.
Lovis menambahkan, pihaknya memprediksi ada dua dari planet lagi yang bakal ditemukan. “Salah satunya memiliki massa 65 kali dari massa Bumi, atau sebesar Saturnus, dengan waktu orbit selama 2.200 hari. Satunya lagi memiliki

SKOTLANDIA – Ilmuwan Eropa berhasil menemukan sebuah planet baru yang ditengarai memiliki penghuni. Planet ini bernama CoRoT-Exo-4b. Planet baru ini berukuran sebesar Jupiter dan beredar di sekitar bintang yang berlokasi dekat dengan matahari. Planet tempat alien bersarang tersebut membutuhkan waktu sekira 9,2 hari untuk mengitari bintang tersebut. Waktu perjalanan yang cukup lama dibanding planet terluar lainnya. Nama CoRoT-Exo-4b ini diambil dari sebuah teleskop yang berhasil menangkap planet aneh ini. Teleskop luar angkasa bernama CoRoT ini didesain dan dimiliki oleh badan luar angkasa Eropa untuk mencari keberadaan planet-planet terluar. “Kami belum tahu jika CoRoT-Exo-4b dan bintang yang mengiringinya mampu melakukan rotasi sejajar sejak formasi mereka yang pertama pada satu miliar tahun lalu. Atau mungkin dalam waktu dekat keduanya dapat mensejajarkan diri,” ujar peneliti dari Universitas Exeter Suzanne Aigrain, seperti dikutip melalui Space.com, Jumat (25/7/2008). Para peneliti cukup terkejut dengan temuan ini. Pasalnya planet tersebut tidak memiliki kapasitas massa dan jarak yang cukup untuk mengitari bintang yang berada di dekatnya. Padahal massa dan jarak merupakan hal yang cukup penting untuk bisa menekan gravitasi dan mempengaruhi rotasi yang dilakukan planet tersebut. (srn)


Penyelidikan UFO mendetail pertama di dunia, bisa dibilang terjadi diawal abad ke-13, tepatnya pada 1235ketika pasukan Jendral Jepang Yoritsume’s mengamati fenomena cahaya yang tak dapat dijelaskan di angkasa. Jendral lantas menugaskan sekelompok penyelidik untuk mempelajadi kasus ini, dan akhirnya menawarkan kesimpulan bahwa yang mereka lihat saat

itu adalah sekedar bintang, yang bergoyang-goyang karena angin. Di dunia modern, penelitian serius mengenai fenomena penampakan UFO telah dimulai pada sekitar tahun 1933 terhadap fenomena “Ghost Plane” di Skandinavia dan negara-negara lain di daratan Eropa . Di Australia sendiri, penelitian ini telah dimulai lebih awal lagi yaitu pada tahun 1920, ketika kapal laut SS Amelia J. menghilang di Selat Bass. Hilangnya kapal laut ini, ternyata terjadi bersamaan dengan banyaknya laporan mengenai munculnya sinar-sinar misterius di selat tersebut . Di Amerika Serikat, penelitian dimulai pada tahun 1947 atas kasus perjumpaan UFO yang dilaporkan Kenneth Arnold dalam penerbangannya di Gunung Rainier, AS. Sedangkan di Indonesia, semenjak J.Salatun menempati jabatannya pada tahun [?]1967.
Namun walaupun telah puluhan (bahkan ratusan) tahun berlalu, tetap tidak ada penjelasan memuaskan yang dapat diberikan dari rangkaian penelitian atas fenomena UFO. Dan ternyata, dengan semakin canggihnya teknologi saja, fenomena UFO ini masih tetap menyimpan banyak misteri. Pada masa abad pertengahan, fenomena penampakan UFO seringkali dikaitkan dengan hal religius, atau superstitius. Tak jarang penampakan UFO di langit dianggap sebagai pertanda dari Tuhan atau dewa-dewa atas musibah yang akan datang, atau menyertai suatu kejadian khusus. Termasuk dalam hal ini misalnya beberapa lukisan abad pertengahan yang menggambarkan Yesus atau figur Kristen sakral lainnya, dengan latar belakang benda terbang misterius dilangit. 1561: One of most famous early UFO case, where the citizens of the Nürnberg got into abashed witnesses of strange phenomena above the city. Strangeness of this phenomenon meant lot of cross and saucer like flying objects. Case had noticed by the local media and artist. Sedangkan pada masa yang lebih kuno, yaitu pada masa prasejarah, penampakan UFO ini seringkali memang dipercayai sebagai peristiwa kedatangan dewa yang mereka sembah, dewa yang pada jaman dahulu mengajarkan kebudayaan dan teknologi pada cikal bakal manusia modern. Di Amerika Selatan, terdapat beberapa patung kuno peninggalan suku Indian yang menggambarkan dewa mereka yang turun dari langit. Uniknya, dewa yang mereka rupakan ini jika dilihat dengan sudut pandang modern ternyata sangat mirip dengan gambaran seseorang astronot! Astronot yang digambarkan berpakaian antariksa, komplet dengan helm bulatnya, sedang menunggangi roket dengan menghadapi serangkaian panel pengendali! Pendapat mengenai penampakan dan identitas UFO ini kemudian berkembang seiring dengan mundur dan majunya peradaban-peradaban besar dunia, perkembangan teknologi, dan terutama dengan timbulnya kemampuan manusia untuk melakukan hal yang sama; terbang. Ketika manusia memiliki kemampuan untuk menjelajah langit, tingkat pertemuan antara manusia dengan UFO pun makin meningkat. Keberhasilan Wright bersaudara untuk menunggangi angin dan membuat pesawat terbang, membuktikan bahwa terbang bukanlah hak eksklusif bangsa burung dan unggas. Dari pencapaian prestasi ini manusiapun lalu melihat fenomena UFO sebagai suatu hal yang lebih terukur dan lebih “membumi”, bukan sebagai dewa yang turun dari langit, namun sebagai hasil teknologi maju dari mahluk yang mungkin mirip seperti manusia. Dari serangkaian penelitian yang kemudian dilakukan terhadap fenomena penampakan UFO, baik oleh pihak militer maupun sipil, maka dapat diambil beberapa anggapan umum mengenai asal-usul dari UFO serta teknologi dan peradaban yang berada dibelakangnya. Adapun pendapat yang berkembang saat ini mencakup asal-usul dan keberadaan UFO sebagai:
1. Senjata Rahasia Perang
2. Peradaban Asing Luar Angkasa
3. Kendaraan Para Dewa
4. Sisa Peradaban Kuno Canggih
5. Produk Peradaban Tersembunyi
6. Eksperimen Militer Negara Adikuasa
7. Hasil Peradaban Evolusi Alternatif
8. Penjelajah Waktu Dari Masa Depan
9. Penjelajah Dari Dunia Paralel
10. Spesies Biologis Aerial
11. Jin